Mencintaimu Karena Allah (Part 3)


google.co.id

Jangan lupa baca part 1 dan 2 nya….

Berpisah

google.co.id

Hari ini Amar akan terbang ke Jerman, dan sampai hari itu kaki Amar masih berat untuk meninggalkan Hasna dan calon jagoannya. semua barang dikemas oleh Hasna, Hasna lebih bersemangat dibanding amar yang akan pergi, sementara Amar hanya memandangi istrinya sambil tersenyum sesekali dan menghapus air matanya diam-diam. Amar diantar oleh Hasna, kakak, dan Ayah ibu Hasna ke bandara, Sepanjang perjalan tak hentinya Amar berdoa dalam hati meniti pesan pada Allah untuk menjaga istri dan calon jagoannya. “Allah jaga Hasnaku, dan Bayiku, Aku mencintainya KarnaMu ya Allah.” itulah lafafz yang tak hentinya diucapkan Amar abagaikan Syair terus mengalir. “mas tanganku keram” suara Hasna menyadarkan Amar, dia menatap hasna yang menunjukkan wajah pura-pura kesakitan sambil mengankat tangannya yang sedari tadi digenggam erat oleh Amar. Ayah dan ibu Hasna tersenyum melihat tingkah menantu dan putrinya, Amar hanya tersenyum tipis dan berpindah menggenggam tangan Hasna yang satunya lagi. Tiba waktunya keberangkatan Amar harus melepaskan genggamannya, setelah mencium tangan ayah dan ibu mertuaya, tak lupa Hasna juga menitipkan Hasna kepada kakaknya yang memang tinggal bersama mereka sebelumnya. Terakhir Amar memeluk Hasna dan mencium keningnya, tak lupa Amar berpamitan pada calon jagoannya “nak jaga umi yaa” itulah pesan Amar. Hasna segera mendorong suaminya untuk segera bergegas menuju pesawatnya. Amar berjalan mundur sampai ia tidak bisa melihat bayangan istrinya lagi.

Tentang Rindu

Sesampainya di rumah Hasna segera ke kamarnya kebetulan untu hari ini ia ingin ke rumah ayah dan ibunya. Hasna menagis sesenggukan mengeluarkan semua kesedihan yang ia pendam, mulai dari tadi pagi membereskan semua keperluan suaminya. Hasna takut jika ia menngis di depan suaminya, maka Suaminya akan goyah dan merelakan cita-citanya selama ini, ia tidak mau itu terjadi. Ayah Hasna yang mendengar tangisan putrinya tidak tega hanya untuk sekedar mengetok pintu, sehingga ia biarkan sampai Hasna merasa tenang. Hari-hari terus berjalan, Amar tanpa Hasna dan Hasna tanpa Amar. Amar sudah muali masuk kuliah dan dia berusaha sebaik mungkin untuk itu, begitu juga dengan Hasna dia berusaha menyelesaikan skripsinya secepat mungkin, namu harus tertunda karna Hasna harus cuti melahirkan buah hati mereka. Hasna melahirkan seorang anak laki-laki dan Amar mengadzankan anaknya lewat panggilan telephon. Meski setiap hari mereka lalui saling berjauhan tapi setiap hari mereka selalu meluangkan waktu saling mengirim email, saling berbagi cerita dan kegiatan yang mereka lalui sehari-hari. Suatu hari dalam emailnya Hasna bercerita tentang masa lalu, ia teringat sewaktu Amar hendak melamarnya, ia sampaikan semua asa yang dirasakannya, begitulah setiap hari mereka lalui mengirim pesan cintanya melalui email karena saat itu  video call belum semua orang bisa mengaksesnya. Zaid, jagoan Amar kini sudah berumur hampir satu bulan, dia sudah bisa melafalkan satu dua kata “bii”, “mii”.. hanya itulah kata-kata yang bisa dipahami oleh Amar saat berbicara melalui telpon. Kini Amar hampir menyelesaikan studinya, dan ia juga sudah mendapat pekerjaan, dan Amar berencana mengajak Hasna ke sana. “Zaid,, nak bulan depan kesini yaa bareng umi, abi udah siapin istana baru buat Zaid dan umi disini.” Amar masih berusaha mengajak jagoannya megobrol dari seberang sana. Sementara Hasna hanya tersenyum sambil sesekali mengelap sisi matanya secara bergantian. “iya bii” jawab Hasna kemudian.

Hari itu Tiba

newmusica.org

Amar hari ini sangat bahagia, semua urusan tentang rumah baru untuk Hasna Sudah selesai, meski uangnya sudah habis semua Amar tetap bahagia, sungguh tak sabar Amar menunggu hari esok, sepanjang hari ia sibuk melantunkan solawat, tersenyum kepada setiap orang yang ia temui. “Istighfar Mar” ujar sahabatnya yang sedari tadi memperhatikan tingkahnya, Amar hanya tersenym tidak perduli, dan sahabatnya ikut tersenyum, ia tahu bahwa Amar sahabatnya benar-benar bahagia kali ini, bahkan ia tak sabar juga ingin bertemu wanita yang selalu diceritakan oleh sahabatnya itu.

“mbak Hasna ke pasar dulu yaa, titip Zaid sebentar”, seru Hasna kepada kakak Amar. “looh mau beli apa lahi tooh? bukannya sudah dibeli semua kemarin?” tanya kakak Amar. “satu lagi mbak kelupaan, Mas Amar suka kecap asin dari sini kemarin belum dibeli” jawab Hasna sambil tersenyum. “ooh yasudah, kalo ndak mbak aja yang pergi?” kakak Amar menawarkan diri, tetapi Hasna menolak dan meminta izin kembali. “Hsna aja mbak, sebentar aja kok ga papa mbak, Zaid juga lagi tidur”. Hasna berangkat naik bajai, hari ini Hasna juga sangat bahagia, karna besok semua rindu itu akan terbebaskan, ia akan bertemu dan berkumpul kembali dengan lelaki yang sangat dicintainya. semua air mata rindu akan berubah menjadi rasa syukur, setiap lembar email yang dia print dan baca kembali akan terbayar dan menjadi bukti cintanya kepada Amar suaminya. sungguh ini benar-benar hari yang indah, dan akan menjadi awal yang indah .

“mbak maaf” ujar sopir bajai membuyarkan lamunan Hasna, “kenapa pak?” tanya Hasna tergagap. “ini mbak bajainya mogok, mbak tunggu bentar saya perbaikai yaa” jawab supir bajai berusaha seramah mungkin. Hasna mendongak keluar bajai, kemudian turun dari bajai, ” ga papa pak saya jalan aja uda deket kok itu tinggal nyebrang. jawab Hasna dengan bersemangat, “Bener ga papa mbak ini sebentar kok mbak, saya antar saja” bujuk supir bajai. Hasna menolak dan segera memberi ongkos kepada si bapak, memang begitulah orang kasmaran akan lupa yang namanya capek, kesel, marah itu sangat sulit dibedakan saat itu, seperti Hasna saat itu, jika di hari biasa Hasna akan memarahi tukang bajai pastinya. pak sopir tersenyum bahagia merasa terbebas dari amukan yang seharusnya dia dapatkan.

“bruuugghh”,, suara itu mengejutkan semua orang, hanya dalam hitungan detik tawa itu menjadi tangis, langit yang tadinya cerah seakan akan terus bersinar, seketika mendung. jalanan yang tadinya bising oleh suara kendaraan, berubah senyap, sepi, gelap bagi Hasna. “siapa itu” semua orang saling bertanya, tiba-tiba suara sirene ambulans mendekat entah darimana mereka tahu akan kecelakaan itu. Hasna yang sudah tergeletak belumuran darah, segera dilarikan ke rumah sakit, wajahnya terluka parah hampir saja kakak Amar tidak mengenalinya, jika tidak melihat pakaian yang dikenakan Hasna tadi saat berpamitan. ayah dan ibu Hasna sampai di rumah sakit dan menyuruh kakak Amar untuk menghubungi adiknya, dan segera menunggu di rumah saja sambil menemani Zaid kecil.

La Tahzan

nationalgeographic.co.id

 

“assalamualaikum” sapa kakak amar sedikit gugup, “walaikumussalam kak, kenapa kak? jawab Amar dengan semangat sambil terus menyusun hiasan kamar untuk jagoan kecilnya. “amar..” masih dengan suara yang gemetar seakan engga memberi tahu adiknya, “iya kak” tanya Amar tidak sabar. “kamu harus pulang sekarang” kakaknya akhirnya menjawab dengan tangis yang hampir terdengar oleh Amar. “kenap kak?, kan Hasna dan Zaid besok kesini jawab Amar berusaha tenang setelah hampir jatuh mendengar suara kakaknya. “tidak Amar, kamu yang harus kembali Hasna membutuhkanmu sekarang, kamu harus pulang Hasna sakit mar” jawab kakaknya dan tangisannya sungguh tidak tertahan lagi, mengingat betapa bahagianya adik iparnya saat minta izin bahkan belum sampai satu jam yang lalu. pertahanan Amar goyah seluruh kakinya seakan lumpuh, nafasnya terhenti sejenak, amar tidak mampu menahan tangisan itu meledak sudah, Amar menangis sesenggukan sisa tawa dan senyumnya hari ini habis sudah. Amar masih berusaha berdiri namun tetap tidak bisa seakan kaki dan seluruh badannya terpaku di kamar kecil yang sudah disiapkannya untuk Zaid. Setelah satu jam AMar akhirnya mampu berdiri dan berlari secepat yang ia bisa, mencari sahabatnya, “Mar” suara itu, itulah suara yang amar cari. “kenapa bro?” tanya sahabat amar sambil menghalangi tubuh Amar yang hampir tumbang. “tolonh aku, hari ini aku harus kembali ke Indonesia, istriku sakit” jawab amar berusaha tenang namun tidak bisa tangis itu masih ada. “tenang Mar, aku akan mengurus semuanya disini aku sudah memesan tiket untukmu tadi kakakmu menelponku” jawab sahabatnya menguatkan Amar. “terimakasi ji” jawab Amar dan bergegas mengikuti panduan sahabatnya untuk menaiki taksi menuju bandara. di pesawat Amar tidak berhenti menangis, semua kenangan Hasna seakan terulang kembali, semua tampil dengan jelas seperti film di jendela pesawat. sesampainya di Indonesia Amar langsung bergegas menuju rumah sakit, mencari ke seluruh ruang dan akhirnya bertemu ayah mertuanya. Amar mencium tangan Laki-laki yang sangat dihormatinya itu, “disini nak” tuntun ayah Hasna tanpa mendengar pertanyaan dari Amar. Amar memasuki ruangan, melihat seorang yang ia sangat cintai tergeletak lemas tak berdaya disana, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang dia lihat sekarang bukanlah Hasnanya, “ayah lihatlah itu bukan Hasna putrimu, ibu iya kan? itu bukan Hasna” teriak Amar meyakinkan ayah dan ibu mertuanya, ia berharap ada seseorang yang mengatakan bahwa itu bukan Hasna, “ayah itu bukan Hasna, itu bukan istriku Hasna” ucap Amar disela tangisnya yang semakin kencang. tiba-tiba Ayah Hasna mendaratkan tamparan kecil di wajah amar, “sadarlah Amar istighfar, lebih baik kamu pergi dari sini kalo terus seperti ini,” teriak ayah Hasna mencoba menyadarkan menantunya kembali. ” ayo nak .. sebaiknya kamu pulang dulu” bujuk ibu hasna lagi sambil membantu amar berdiri. Semuanya berjalan sangat cepat dan kuat, seperti kilat disertai gemuruh yang datang di siang hari yang cerah.

Amar kemudian pulang ke rumah, dirumah ia bertemu kakaknya dan memeluknya sambil menggendong Zaid. Amar memeluk Zaid, jagoan kecilnya yang harus bertemu dengannya pertama kali dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Amar membawa Zaid ke kamar, membeamkan Zaid kecilnya dalam peluk dan isak tangisnya, untungnya Zaid adalah anak yang baik seakan tahu apa yang dirasakan ayahnya, ia tidak menangis tetap tenang dalam pelukan ayahnya. Amar mencium jagoan kecil yang sangat dirindukannya dengan lembut, menyanyikan solawat sampai anaknya tertidur meski air matanya belum berhenti mengalir, hingga akhirnya Amar tertidur bersama Zaid di sebelahnya. Pagi hari sebelum azan subuh Amar terbangun ia membuka lemari, air mata itu kembali mengalir ketika melihat pakaian Hasna tersusun rapi di dalamnya. Amar memeluk baju itu satu persatu ia ciumi sampai tanpa sengaja beberapa kertas berserakan, Amar menyusu kertas-kertas itu kembali membaca tulisan didalamnya. tangisan Amar semakin pilu ketika tahu bahwa kertas-kertas itu adalah salinan percakapan ia dan Hasna dalam email yang sengaja di cetak oleh Hasna agar bisa dibaca berulang kali.

La tahzan.. meski ini terlalu singkat, meski jarak itu teramat jauh, biarlah doamu menjadi pesan cinta terkhirmu untukku.. Ana Uhibbuka Fiilah

itulah pesan terakhir yang dikirim Hasna melalui email dan belum sempat dibaca oleh Amar.

Amar bersiap, memandikan Zaid, dan menyuruh kakaknya menyiapkan rumah dan mengeluarkan buku-buku yasin, ia berangkat ke rumah sakit bersama Zaid. Amar meminta maaf kepada ayah Hasna sesampainya di rumah sakit, “Ayah.. Mafka Amar” ujar Amar tulus sambil menyerahkan alquran kepada ibu dan ayah Hasna. ayah Hasna mengangguk sambil meneteskan air mata. Amar mendekati tempat tidur Hasna, Mencium kening istrinya, membisikkan salam ketelinga istrinya dan selanjutnya syahadat dan solawat, Amar terus mengucapkan solawat sambil menggendong zaid sampai akhirnya Hasna sempurna menghembuskan nafas terakhirnya. “ana uhibbuki fillah Zauzati” bisik amar sambil menyeka air mata Hasna yang keluar di sisi mata kanannya.

Tamat

What's Your Reaction?

Suka Suka
2
Suka
Sedih Sedih
0
Sedih
Lucu Lucu
0
Lucu
Takjub Takjub
0
Takjub
Keren Keren
0
Keren
GaSuka GaSuka
0
GaSuka
GaPeduli GaPeduli
0
GaPeduli
Marah Marah
0
Marah
Senang Senang
0
Senang
Sri Wahyuni

Sri Wahyuni adalah seorang mahasiswi aktif jurusan Psikologi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Bergabung dengan LaTahzan.id sejak 28 Desember 2017

You may also like